Minggu, 29 Juni 2008

Fitur Intelligent Sensor LG Hemat Energi 59%


JAKARTA - LG Electronics Indonesia (LGEIN) hari ini menunjukkan komitmennya dalam mendukung kampanye hemat energi dengan perkenalan produk TV Plasmanya, Scarlet. Produk LG yang mengadopsi Intelligent Sensor tersebut, berdasarkan hasil penelitian laboratorium Teknik Elektro UI, telah berhasil menghemat penggunaan energi hingga rata-rata 59 persen.

"LG Electronics Indonesia selalu berkomitmen melahirkan produk-produk yang hemat energi. Di samping memperhitungkan keuntungan konsumen, produk-produk kami juga dapat mengurangi penggunaan sumber energi dalam jumlah besar," kata vice president LGEIN Kim Joo Hyung pada jumpa pers di Crowne Plaza, Rabu (25/6/2008).

"Untuk itu, kami mengadopsi teknologi Intelligent Sensor yang mampu mereduksi penggunaan energi pada jajaran produk Scarlet kami. Dan hasil riset laboratorium Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia pada produk ini adalah berkurangnya penggunaan listrik hingga rata-rata 59 persen," terang head of TV product marketing LGEIN Eko Adhi Suyitno pada kesempatan yang sama.

"Alogoritma Intelligent Sensor akan mengoptimalisasi elemen kualitas gambar, seperti brightness, contrast, sharpness, color tone, dan juga white balance," imbuh dia.

Kepala pusat studi teknologi dan informasi ketenagalistrikan Teknik Elektro FTUI, Dr Iwa Garniwa Mulyana K menuturkan bahwa timnya telah mengadakan riset pada dua produk LG, 42LG50 dan 42LG60.

"Dan hasilnya, pada saat ruangan gelap, 42LG50 memakan energi hingga 59,84 Wh selama satu jam dengan tingkat pencahayaan 50 lux. Sedangkan pada seri 42LG60, ketiga gelap memakan energi sebanyak 17,30 Wh dalam kurun waktu satu jam dengan tingkat pencahayaan 50 lux," tukasnya.

"Hasil perhitungan kami, penghematan energi produk TV LG dalam satu jam dengan biaya rata-rata Rp558 per KWh, 42LG50 mampu mereduksi penggunaan biaya listrik dengan minimum 50 lux sebesar 68 persen. Sedangkan pada seri 42LG60, pada minimum tingkat pencahayaan 50 lux, biaya listrik dapat direduksi sekira 59,11 persen," lanjut dia.

Sementara itu, LG Electronics global dikabarkan telah menginvestasikan sekira lebih dari USD1 juta untuk produk TV Scarlet, yang mana kontribusinya untuk pendapatan perusahaan mampu mencapai 30 persen. Tahun ini LG Electronics memproduksi Scarlet hingga 13 juta unit ke seluruh dunia, dengan target penjualan hingga tiga hingga empat juta unit.

"Untuk di Indonesia, LGEIN ditargetkan untuk mampu menjual hingga lebih dari 10.000 unit per bulan sampai akhir tahun 2008. Target penjualan TV Scarlet sekira 3.000 unit pada satu bulan ini telah tercapai. Kami optimistis penjualannya akan terus bertambah karena produk ini mempunyai selling point tersendiri, penghematan energi," pungkas General Manager Sales and Marketing LGEIN, Budi Setiawan, di tempat yang sama.

Telo Gendruwo Sebagai Bahan Baku Ethanol


ilustrasi (ist)
SURABAYA - Ubi kayu karet atau kalau orang Jawa menyebutnya sebagai telo gendruwo ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan baku ethanol.

Telo gendruwo selama ini tidak mempunyai nilai ekonomis karena pahit jika dimakan. Namun di tangan Nurhatika, dosen biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, itu bisa berubah menjadi mempunyai nilai ekonomis.

"Sebenarnya apapun bisa asal ada kandungan karbohidratnya dan pati," ujarNurhatika di Laboratorium biologi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) kampus ITS, Kamis (26/06/2008). Menurut dia, telo gendruwo ini ternyata mempunyai tingkat karbohidrat yang tinggi.

Selain ketela, tanaman lainnya pun dapat dimanfaatkan. "Pokoknya manfaatkan saja limbah yang masih ada karbohidratnya," jelasnya.

Ika mencontohkan, di Bekasi ethanol dapat dibuat dari limbah kulit kacang koro, sementara di Kediri menggunakan limbah tahu.

"Kami juga sedang mengincar Probolinggo, karena di sana banyak sekali tetes tebu," tambahnya.

Proses pembuatan ethanol dari ketela pohon ini cukup sederhana. Ketela ataupun bahan-bahan lain tersebut dihaluskan, lalu direbus. Kemudian ditambahkan enzim amylase dan diberi ragi.

"Untuk ementara ini, ragi tape biasa pun bisa digunakan. Tapi kami sedang mengkaji lebih lanjut ragi khusus untuk ethanol ini," lanjutnya.

Larutan itu lalu didiamkan selama 3-4 hari agar proses fermentasi berjalan. Setelah itu, ethanol akan dihasilkan. "Tapi kadar ethanol ini masih 90 persen. Sementara untuk kompor kami membutuhkan kadar ethanol sebesar 95 persen," ujarnya.

Untuk menaikkan kadar ethanol perlu adanya penambahan batu kapur. Ini perlu dilakukan sebab ethanol dengan kadar di bawah 95 persen masih mengandung Pb (timbal). Sedangkan ethanol untuk bahan bakar kompor ini harus bebas dari Pb.

"Kalau ada Pb-nya bisa meledak, makaya harus bersih dari Pb," lanjutnya.

Selain itu, kompor yang digunakan pun bukan kompor untuk minyak tanah. Kompor ethanol ini khusus dirancang untuk bahan bakar ini. "Kami bekerja sama dengan koperasi Manunggal Sejahtera untuk produski kompornya, ini kompor tanpa sumbu," jelasnya.

Keunggulan bahan bakar ethanol ini selain lebih ekonomis juga terbukti tanpa jelaga. Namun, pemanasan ethanol diakui Ika lebih lama dibandingkan minyak tanah. "Untuk memasak mi, kompor minyak tanah membutuhkan waktu 10 menit. Sedangkan kompor ethanol 2-3 menit lebih lama," imbuhnya.

Perusahaan China Ciptakan Piring Terbang


Piring terbang (ananova)
HEILONGJIANG - Sebuah perusahaan China menciptakan piring terbang yang dikendalikan menggunakan remote control dan dapat melayang di udara hingga ketinggian 3.200 kaki.

Saat uji coba, piringan berdiameter empat kaki ini terbang dengan sukses di atas Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, China. Demikian seperti dikutip dari ananova, Jumat (27/6/2008).

Perangkat ini didesain untuk memonitor kebakaran hutan dan memantau keadaan gedung-gedung bertingkat dari atas. Piringan ini dapat terbang selama 40 menit dengan kecepatan hingga 50 mil per jam (mph).

The Harbin Smart Special Aerocraft Company, perusahaan pencipta piringan terbang itu, menghabiskan dana lebih dari 2.000.000 poundsterling dan waktu selama 12 tahun untuk mengembangkan prototipe piringan itu.

Pembuatan piringan ini juga dimaksudkan untuk foto udara, survei geologi, dan pencahayaan darurat. Sejumlah piringan akan mulai dipasarkan pada September, namun belum diketahui berapa harga yang akan dipasang untuk setiap unitnya.

Rabu, 25 Juni 2008

Jepang Berburu Alien dan UFO


TOKYO - Ilmuwan Jepang saat ini sibuk berburu keberadaan alien dan benda terbang tak teridentifikasi (UFO). Tidak tanggung-tanggung, guna menguak misteri itu, para ilmuwan bergabung dalam sebuah proyek di Nishi-Harima Astronomical Observatory (NHAO) yang bermarkas di Sayo Town, Daerah Administrasi Hyogo, Jepang Timur.

Kepala Peneliti NHAO Shinya Narusawa dalam wawancara akhir pekan lalu yang dikutip melalui AFP mengatakan, proyek jangka panjang itu diikuti sejumlah ilmuwan dari Jepang dan beberapa negara lainnya. Narusawa tidak menjelaskan dari mana saja ilmuwan luar Jepang yang dilibatkan. "Setiap orang setidaknya pernah berpikir sekali apakah luar angkasa itu tak terbatas dan apakah alien benar-benar ada," papar Narusawa.

Narusawa menjelaskan, dalam meneliti keberadaan alien dan UFO, pihaknya menggunakan sejumlah teleskop serta alat pendeteksi gelombang dan cahaya. Alat alat itu, kata Narusawa, dapat menangkap sinyal yang diduga bukan berasal dari bumi. Sinyal tersebut kemudian diteliti dan dicari asalnya.

Narusawa tidak merinci nama alat-alat yang dimaksud. "Sangat sulit mendeteksi adanya sinyal aneh. Terkadang sangat sulit untuk mengatakan apakah itu dari bumi, misalnya dari mesin, ataukah sinyal itu datang dari alam lain," jelasnya. Sejauh ini belum ada hasil yang signifikan terkait penyelidikan alien dan UFO. Kendati demikian, Narusawa yakin cepat atau lambat misteri tentang kehidupan di luar bumi akan terkuak.

"Dengan memikirkan angkasa luar, kami berharap akan ada peluang yang dapat membuat manusia semakin menghargai bumi dan semua makhluk yang ada di atasnya," ujarnya. Penelitian tentang alien dan UFO di Jepang bukanlah isu baru. Tahun lalu parlemen Jepang secara resmi menanyakan kepada pemerintah apakah pernah melakukan observasi tentang fenomena yang dibicarakan banyak orang itu.

Menjawab pertanyaan itu, pemerintah mengatakan 'tidak'. Tidak hanya di Jepang, perburuan alien dan UFO juga dilakukan di negara-negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Belum lama ini, Departemen Pertahanan (Dephan) Inggris merilis data tentang penampakan benda-benda misterius yang diduga UFO.

Data dari 1989-2002 itu dirilis awal Juni, beberapa data sudah pernah dipublikasikan, sisanya akan dirilis beberapa tahun lalu. Data tersebut dapat diakses melalui website milik Arsip Nasional Inggris di ufo.nationalarchives. go.uk. Sebagian material berisi formulir satu halaman berisi detail seperti kira-kira sebesar apa pesawat itu dan apa saja yang dilakukan, kalau saja terlihat.

Data itu termasuk kliping koran acak dari tulisan wartawan. Seperti artikel 1986 milik Daily Mirror tentang cahaya dari objek merah menyala di kokpit sebuah pesawat Angkatan Udara Inggris (RAF) yang membawa Pangeran Charles membuat pilotnya silau. Di dalam artikel itu, koran tersebut mengatakan, Pangeran Philip (suami Ratu Elizabeth II) adalah seorang yang suka mengamati UFO selama 36 tahun.

Di pihak lain, AS juga secara sistematis mengumpulkan laporan penampakan UFO. Tapi, program terakhirnya, dikenal sebagai Project Blue Book, ditutup pada 1969 setelah pemerintah menyimpulkan bahwa tak ada UFO di sana dan mereka tidak mau menyelidiki.

GOOGLE SERVICE

VIDEO